Pemutaran Roda Dhamma: Khotbah Pertama Sang Buddha di Taman Rusa Isipatana
Setelah mencapai Penerangan Agung di bawah Pohon Bodhi pada usia 35 tahun, Sang Buddha Gautama sempat ragu untuk mengajarkan kebenaran yang telah ditemukannya. Dhamma (Ajaran) yang Beliau pahami teramat dalam, halus, dan sulit dimengerti oleh manusia yang hatinya masih diselimuti oleh nafsu dan keserakahan. Namun, atas permohonan dari Brahma Sahampati yang mewakili makhluk-makhluk di alam semesta, Sang Buddha akhirnya memantapkan tekad-Nya untuk membuka gerbang kebebasan dan membabarkan Dhamma demi keselamatan dunia.
Peristiwa pembabaran khotbah pertama ini dicatat dalam sejarah spiritual sebagai “Pemutaran Roda Dhamma” (Dhammacakkappavattana).
1. Perjalanan Menemui Lima Pertapa (Pancavaggiya)
Mengingat siapa yang paling siap menerima ajaran yang luhur ini, Sang Buddha awalnya teringat pada dua mantan guru meditasinya, Alara Kalama dan Uddaka Ramaputta. Namun, melalui kemampuan batin-Nya, Beliau mengetahui bahwa kedua guru tersebut telah meninggal dunia.
Target Beliau berikutnya adalah Pancavaggiya, kelompok lima pertapa yang dipimpin oleh Kondanna (bersama Bhaddiya, Vappa, Mahanama, dan Assaji). Mereka adalah sahabat-sahabat yang setia menemani Beliau selama masa pertapaan ekstrem di Hutan Uruvela, namun pergi menjauh karena mengira Siddhartha telah gagal saat memutuskan untuk makan kembali. Sang Buddha menempuh perjalanan panjang dengan berjalan kaki dari Bodhgaya menuju Taman Rusa Isipatana di Sarnath, dekat Benares (Varanasi), tempat kelima pertapa itu kini berada.
Saat melihat Sang Buddha datang dari kejauhan, kelima pertapa tersebut sempat membuat kesepakatan rahasia untuk bersikap dingin, tidak menghormati, dan tidak menyambut Beliau. Namun, begitu Sang Buddha melangkah mendekat, pancaran aura kedamaian, keagungan, dan kesucian wajah Beliau seketika meruntuhkan keangkuhan mereka. Tanpa sadar, mereka langsung bergerak menyambut Beliau, mengambilkan air pembasuh kaki, dan menyiapkan tempat duduk terbaik.
2. Khotbah Dhammacakkappavattana Sutta
Tepat pada hari purnama di bulan Asadha (dua bulan setelah pencerahan-Nya), Sang Buddha menyampaikan khotbah pertama-Nya yang sangat monumental, bertajuk Dhammacakkappavattana Sutta (Khotbah Pemutaran Roda Dhamma).
Dalam khotbah ini, Sang Buddha meletakkan fondasi utama dari seluruh ajaran Buddha, yang terdiri dari dua poin esensial:
A. Menghindari Dua Kutub Ekstrem
Sang Buddha mengingatkan para pertapa untuk tidak terjebak dalam dua jalan hidup yang salah dan ekstrem:
- Kama-sukhallikanuyoga: Memanjakan diri dalam kesenangan indrawi dan kemewahan materi (seperti kehidupan masa muda Siddhartha di istana). Jalan ini dinilai rendah, tidak mulia, dan memperpanjang belenggu penderitaan.
- Atta-kilamathanuyoga: Menyiksa fisik dan diri sendiri secara berlebihan (seperti masa bertapa ekstrem Siddhartha di hutan). Jalan ini dinilai menyakitkan, sia-sia, dan tidak menghasilkan pengetahuan spiritual.
Sebagai gantinya, Beliau memperkenalkan Jalan Tengah (Majjhima Patipada), yaitu jalur moderat yang membawa ketenangan, pengetahuan luhur, dan pencerahan batin melalui latihan Jalan Mulia Berunsur Delapan (Pandangan Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Mata Pencaharian Benar, Daya Upaya Benar, Perhatian Benar, dan Konsentrasi Benar).
B. Empat Kesunyatan Mulia (Cattari Ariya Saccani)
Selanjutnya, Sang Buddha membabarkan inti kebenaran mutlak universal, yaitu:
- Dukkha Ariya Sacca (Kebenaran Mulia tentang Penderitaan): Bahwa kelahiran, usia tua, sakit, mati, perpisahan dengan yang dicintai, dan tidak tercapainya keinginan adalah penderitaan.
- Dukkha Samudaya Ariya Sacca (Kebenaran Mulia tentang Asal Mula Penderitaan): Bahwa penderitaan berakar dari nafsu keinginan yang egois dan haus kesenangan (Tanha).
- Dukkha Nirodha Ariya Sacca (Kebenaran Mulia tentang Akhir Penderitaan): Bahwa penderitaan dapat diakhiri secara total dengan melenyapkan Tanha, yang membawa pada kebebasan mutlak (Nibbana).
- Dukkha Nirodha Gamini Patipada Ariya Sacca (Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Akhir Penderitaan): Yaitu dengan mempraktikkan Jalan Mulia Berunsur Delapan.
3. Terbentuknya Sangha Pertama di Dunia
Saat mendengarkan khotbah yang sangat logis dan menyentuh sanubari ini, mata batin Kondanna, pemimpin para pertapa, seketika terbuka. Ia memperoleh “Mata Dhamma” (Dhamma-cakkhu) dan memahami bahwa “Segala hal yang timbul karena suatu sebab, akan hancur dan lenyap kembali.” Kondanna menjadi manusia pertama yang mencapai tingkat kesucian Sotapanna (Pemenang Arus) di bawah bimbingan Sang Buddha Gautama.
Melihat hal itu, Sang Buddha berseru dengan sukacita: “Agnasi vata bho Kondanno!” (Kondanna telah mengerti!). Sejak saat itu, Kondanna dikenal dengan nama Anjna Kondanna.
Tidak lama kemudian, empat pertapa lainnya juga mencapai tingkat kesucian yang sama setelah menerima penjelasan lebih lanjut. Kelima pertapa tersebut akhirnya memohon untuk ditahbiskan menjadi biksu (Bhikkhu). Dengan penahbisan lima biksu pertama ini, lahirlah Sangha (komunitas biksu) pertama di dunia. Momen bersejarah di Taman Rusa Isipatana ini menyempurnakan keberadaan Tiga Permata Agung (Tiratana), yaitu Buddha (Sang Guru), Dhamma (Ajaran), dan Sangha (Komunitas Murid), yang kelak menjadi pilar penyebaran kedamaian ke seluruh penjuru bumi.
