Tissa adalah sepupu dari Sang Buddha (putra dari bibi Beliau). Ia memutuskan untuk melepaskan kehidupan duniawi dan ditasbihkan menjadi seorang bhikkhu ketika usianya sudah cukup tua.
Karena statusnya sebagai kerabat dekat Sang Buddha, Tissa menjadi sangat manja, tinggi hati, dan merasa dirinya memiliki hak istimewa di vihara. Ia sangat suka mengenakan jubah yang bagus dan tinggal di ruangan yang nyaman di Vihara Jetavana. Namun, ia malas berlatih meditasi dan sering kali bersikap tidak sopan kepada para bhikkhu lainnya.
Pemicu Kesalahpahaman
Suatu hari, beberapa bhikkhu yang datang dari jauh berkunjung ke Vihara Jetavana. Ketika melihat Tissa duduk dengan jubah yang anggun, mereka mengira Tissa adalah seorang bhikkhu senior yang memiliki pencapaian spiritual tinggi. Mereka pun mendekat dan memberikan penghormatan dengan sangat sopan.
Namun, Tissa justru menerima penghormatan itu dengan angkuh dan diam saja. Ketika para bhikkhu tersebut mulai bertanya tentang senioritasnya (berapa tahun ia telah ditasbihkan), mereka terkejut mendengarkan bahwa Tissa baru saja ditasbihkan di usia tua.
Salah satu bhikkhu pengunjung kemudian menegurnya dengan lembut, “Sahabat, kamu baru saja menjadi bhikkhu tetapi mengapa bersikap begitu sombong dan tidak tahu tata krama terhadap bhikkhu senior?”
Teguran ini membuat ego Tissa terluka. Alih-alih menyadari kesalahannya, ia justru merasa dihina. Tissa marah besar dan mulai memaki-maki para bhikkhu tersebut. Sambil menangis tersedu-sedu karena murka, ia berlari menemui Sang Buddha untuk mengadukan bahwa ia telah “dibully” oleh para bhikkhu pengunjung.
Nasihat Sang Buddha
Sang Buddha, yang mengetahui segala kejadian sebenarnya, meminta Tissa untuk duduk. Beliau kemudian memanggil para bhikkhu pengunjung tersebut untuk memberikan klarifikasi di hadapan Tissa.
Setelah mendengar kronologinya, Sang Buddha berkata kepada Tissa, “Tissa, kamu adalah pihak yang bersalah. Kamu tidak sopan kepada mereka, dan ketika mereka menegurmu demi kebaikanmu, kamu malah membalasnya dengan kemarahan. Kamu harus meminta maaf kepada mereka.”
Mendengar keputusan Sang Buddha, Tissa yang keras kepala menolak mentah-mentah, “Saya tidak mau meminta maaf, Bhante! Merekalah yang bersalah karena telah menghina saya!” Meskipun Sang Buddha memintanya sampai tiga kali, Tissa tetap bersikeras menolak karena hatinya sudah dipenuhi oleh rasa benci dan dendam.
Sang Buddha kemudian menjelaskan kepada para bhikkhu yang hadir bahwa sifat Tissa yang pendendam ini bukanlah hal baru. Di kehidupan-kehidupan lampau, ia juga memiliki tabiat yang sama, selalu menyimpan sakit hati dan enggan memaafkan.
Sang Buddha mengingatkan bahwa menyimpan dendam dan terus mengingat-ingat kesalahan orang lain hanya akan merugikan diri sendiri dan memperpanjang rantai penderitaan.
Bait Dhammapada (Ayat 3 & 4)
Untuk menyadarkan Tissa dan memberikan pelajaran berharga bagi seluruh bhikkhu, Sang Buddha membabarkan dua bait ayat berikut:
Bait ke-3 (Tentang Mereka yang Menyimpan Dendam)
“Akkocchi maṁ avadhi maṁ, ajini maṁ ahāsi me”; Ye ca taṁ upanayhanti, veraṁ tesaṁ na sammati.
Artinya:
“Ia memaki aku, ia memukul aku, ia mengalahkan aku, ia merampas milikku.” Selama seseorang masih menyimpan pikiran-pikiran (dendam) seperti itu, maka permusuhan dalam dirinya tidak akan pernah berakhir.
Bait ke-4 (Tentang Mereka yang Melepaskan Dendam)
“Akkocchi maṁ avadhi maṁ, ajini maṁ ahāsi me”; Ye ca taṁ na upanayhanti, veraṁ tesūpasammati.
Artinya:
“Ia memaki aku, ia memukul aku, ia mengalahkan aku, ia merampas milikku.” Jika seseorang sudah tidak lagi menyimpan pikiran-pikiran (dendam) seperti itu, maka permusuhan dalam dirinya akan segera berakhir.
Mendengar khotbah dan penjelasan Sang Buddha mengenai bahayanya memelihara kebencian, hati Tissa akhirnya melunak. Ia menyadari kekeliruannya, meruntuhkan egonya, dan bersedia meminta maaf kepada para bhikkhu senior tersebut.
