Kisah Bhikkhu Cakkhupala
Di kota Savatthi, hidup seorang dokter mata yang sangat terampil bernama Mahapala. Setelah mendengarkan khotbah Sang Buddha, ia memutuskan untuk melepaskan kehidupan duniawi dan ditasbihkan menjadi bhikkhu dengan nama Cakkhupala.
Setelah menjadi bhikkhu, ia pergi ke sebuah hutan yang tenang bersama sekelompok bhikkhu lain untuk mempraktikkan meditasi secara intensif selama musim hujan. Cakkhupala mengambil tekad yang sangat keras (vatta): ia tidak akan pernah berbaring selama tiga bulan penuh. Beliau hanya akan bermeditasi dalam posisi duduk, berdiri, atau berjalan.
Ujian Fisik dan Kehilangan Penglihatan
Setelah beberapa waktu, Cakkhupala terserang penyakit mata yang sangat parah. Seorang dokter di desa terdekat memberinya minyak obat yang sangat manjur, dengan syarat obat itu harus diteteskan ke mata dalam posisi berbaring.
Namun, karena teguh pada tekadnya untuk tidak berbaring, Cakkhupala meneteskan obat tersebut dalam posisi duduk. Akibatnya, obat tidak bekerja dengan efektif dan penyakitnya justru semakin parah. Dokter yang mengetahui hal itu akhirnya angkat tangan karena Cakkhupala menolak mengikuti instruksinya.
Meskipun matanya mengalami rasa sakit yang luar biasa hingga akhirnya menjadi buta total, Cakkhupala tidak menyerah. Tepat pada malam saat penglihatannya lenyap, lewat perjuangan meditasi yang gigih, beliau berhasil melenyapkan seluruh kekotoran batin dan mencapai tingkat kesucian tertinggi, menjadi seorang Arahant.
Peristiwa di Vihara Jetavana
Setelah musim hujan berakhir, Cakkhupala Thera kembali ke Vihara Jetavana di Savatthi untuk menemui Sang Buddha.
Suatu malam, saat sedang melakukan meditasi jalan (cankamana), Cakkhupala Thera yang buta tidak sengaja menginjak banyak serangga kecil yang keluar ke permukaan tanah setelah hujan, hingga serangga-serangga tersebut mati.
Keesokan paginya, para bhikkhu lain melihat bangkai serangga di jalur meditasi Cakkhupala. Mereka yang belum paham langsung menuduh Cakkhupala telah melakukan pembunuhan makhluk hidup dan melaporkannya kepada Sang Buddha.
Penjelasan Sang Buddha dan Hukum Kamma
Sang Buddha kemudian bertanya kepada para bhikkhu, “Apakah kalian melihat Cakkhupala membunuh serangga-serangga itu?” Para bhikkhu menjawab, “Tidak, Bhante.”
Sang Buddha lalu bersabda:
“Sebagaimana kalian tidak melihat ia membunuhnya, Cakkhupala pun tidak melihat serangga-serangga itu karena ia buta. Seorang Arahant tidak lagi memiliki kehendak (cetana) untuk membunuh. Oleh karena itu, ia tidak bersalah.”
Para bhikkhu kemudian penasaran, mengapa seorang yang telah mencapai kesucian seperti Cakkhupala harus mengalami penderitaan fisik menjadi buta? Sang Buddha menjelaskan bahwa ini adalah akibat dari Kamma buruk di masa lalunya.
Kisah Masa Lalu: Di salah satu kehidupan lampau, Cakkhupala adalah seorang dokter mata. Suatu hari, ia mengobati seorang wanita miskin yang berjanji akan menjadi budaknya bersama anak-anaknya jika matanya sembuh.
Setelah matanya sembuh, wanita itu takut kehilangan kebebasannya, lalu berbohong dan mengatakan bahwa matanya justru semakin parah. Dokter itu tahu ia sedang dibohongi. Karena marah dan dendam, ia sengaja meracik obat jahat yang membuat mata wanita tersebut buta total. Akibat kamma buruk itulah, di kehidupan terakhirnya ini, Cakkhupala harus mengalami kebutaan.
Bait Dhammapada (Ayat 1)
Mendengar kisah tersebut, Sang Buddha kemudian membabarkan bait pertama dari Dhammapada:
Mano-pubbaṅgamā dhammā, mano-seṭṭhā manomayā; Manasā ce paduṭṭhena, bhāsati vā karoti vā; Tato naṁ dukkham-anveti, cakkaṁ’va vahato padaṁ.
Artinya:
Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, segala sesuatu dibentuk oleh pikiran. Jika seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya, bagaikan roda pedati yang mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya.
