Maha Parinibbana: Keheningan Agung dan Wafatnya Sang Buddha Gautama
Setelah 45 tahun tanpa lelah mengembara menyebarkan obor kebijaksanaan (Dhamma) dan membangun fondasi Sangha yang kokoh ke berbagai penjuru India kuno, Sang Buddha Gautama mencapai usia 80 tahun. Fisik jasmani Beliau yang menua mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan yang berat. Peristiwa suci kemangkatan Sang Buddha dari dunia fana ini dicatat dalam sejarah sebagai Maha Parinibbana—sebuah momen kematian yang agung, damai, dan bebas mutlak dari lingkaran kelahiran kembali (samsara).
1. Gema Ramalan dan Perjalanan Terakhir
Tiga bulan sebelum wafat-Nya, saat berada di Capala Cetiya di wilayah Vesali, Sang Buddha secara sadar memutuskan untuk melepaskan sisa usia kehidupan-Nya (Ayu-sankhara). Beliau menyampaikan kepada Ananda, pembantu setia-Nya, bahwa dalam waktu tiga bulan ke depan, Tathagata (sebutan untuk Sang Buddha) akan mencapai Parinibbana. Bumi bergetar hebat menyambut keputusan agung tersebut.
Meskipun dalam kondisi fisik yang sangat lemah dan didera sakit pasca menerima persembahan makanan terakhir berupa makanan yang sulit dicerna (Sukaramaddava) dari seorang pandai besi bernama Cunda, Sang Buddha tetap memaksakan diri berjalan kaki menuju tujuan akhir-Nya: sebuah kota kecil terpencil bernama Kusinara (Kushinagar). Perjalanan melelahkan ini mencerminkan kasih sayang-Nya yang tanpa batas hingga detik terakhir.
2. Di Antara Dua Pohon Sala Kembar di Kusinara
Setibanya di perbatasan Kusinara, tepatnya di Hutan Sala milik suku Malla, Sang Buddha merasa tidak dapat melanjutkan perjalanan lagi. Beliau meminta Ananda untuk menyiapkan tempat berbaring di antara dua pohon Sala kembar. Beliau bersandar dengan kepala menghadap ke utara, merebahkan tubuh-Nya di sisi kanan dalam posisi tidur singa (Sihasayyana), dengan kaki kiri bertumpu di atas kaki kanan, dalam kesadaran penuh dan ketenangan batin yang mutlak.
Seketika itu juga, sebuah fenomena alam yang ajaib terjadi. Meskipun saat itu bukan musimnya, kedua pohon Sala kembar tersebut mendadak berbukan dengan sangat lebat hingga kelopak bunganya gugur bertaburan menghujani tubuh Sang Buddha. Musik celestial bertalu-talu dari langit. Melihat hal itu, Sang Buddha menasihati Ananda:
“Ananda, penghormatan sejati kepada Tathagata bukanlah dengan taburan bunga atau musik ini. Melainkan, jika ada Bhikkhu, Bhikkhuni, Upasaka, atau Upasika yang mempraktikkan Dhamma dengan sungguh-sungguh dan hidup sesuai ajaran, dialah yang menghormati Tathagata dengan penghormatan tertinggi.”
3. Murid Terakhir dan Khotbah Pamungkas
Bahkan di ambang kematian-Nya, pintu belas kasih Sang Buddha tidak pernah tertutup. Seorang petapa tua bernama Subhaddra datang tergesa-gesa ingin mengajukan pertanyaan filosofis. Ananda sempat melarangnya karena tidak ingin mengganggu Sang Buddha yang sedang sekarat. Namun, Sang Buddha yang mendengar percakapan itu berseru, “Jangan larang dia, Ananda. Biarkan Subhaddra bertanya.”
Setelah mendengarkan penjelasan singkat tentang Jalan Mulia Berunsur Delapan, Subhaddra seketika mendapatkan pencerahan, memohon ditahbiskan, dan menjadi murid terakhir yang mencapai kesucian Arahat sebelum Sang Buddha wafat.
Sebelum memasuki keheningan total, Sang Buddha mengumpulkan para Bhikkhu yang hadir dan memberikan Pesan Terakhir (Vacha Pamungkas) yang sangat monumental sebagai penuntun abadi umat manusia:
“Handadani bhikkhave amantayami vo, vaya-dhamma sankhara, appamadena sampadetha.”
“Dengarlah, wahai para Bhikkhu, Tathagata mengingatkan kalian: Segala sesuatu yang terbentuk dari perpaduan unsur adalah tidak kekal dan akan hancur. Berjuanglah dengan sungguh-sungguh demi kebebasanmu dengan penuh kesadaran.”
4. Memasuki Maha Parinibbana
Tepat pada malam bulan purnama di bulan Waisak (sekitar tahun 543 SM), Sang Buddha menutup mata-Nya. Beliau memasuki berbagai tingkatan meditatif mendalam (Jhana) satu per satu, mulai dari yang terendah hingga yang tertinggi, lalu turun kembali, dan akhirnya melepaskan napas terakhir-Nya dari tingkat Jhana keempat.
Pada momen itulah, Sang Buddha Gautama mencapai Maha Parinibbana. Beliau wafat dengan kedamaian total, memutus seluruh rantai karma dan ego, serta tidak akan pernah terlahir kembali di alam mana pun. Bumi berguncang hebat, petir menyambar di langit yang cerah, dan para murid yang belum mencapai kesucian menangis meratapi hilangnya Sang Guru Agung dunia. Jenazah Beliau kemudian dikremasi dengan upacara kehormatan tertinggi oleh suku Malla, dan relik (sisa pembakaran suci) Beliau dibagi menjadi delapan bagian untuk disimpan di berbagai stupa agung sebagai objek penghormatan bagi generasi mendatang.
