[Cerita Dhammapada] Kisah Kali Yakkhini

Di kota Savatthi, hidup seorang pemuda sebatang kara bersama ibunya setelah ayahnya meninggal dunia. Sang ibu ingin anaknya segera menikah agar ada yang mengurus rumah, namun pemuda itu menolak karena ingin fokus merawat ibunya. Karena ibunya terus mendesak, akhirnya pemuda itu setuju dan menikahi seorang gadis pilihan ibunya.

Konflik Istri Tua dan Istri Muda

Setelah beberapa lama menikah, ternyata sang istri mandul. Sang ibu khawatir jika tidak ada keturunan, garis keluarga mereka akan terputus dan harta mereka akan disita oleh orang lain. Maka, sang ibu mendesak anaknya untuk menikah lagi.

Istri pertama, yang merasa posisinya terancam jika suaminya mencari istri baru sendiri, memutuskan untuk mencarikan istri kedua untuk suaminya. Ia memilih seorang gadis yang ia kenal. Namun, di dalam hatinya, istri pertama menyimpan rasa iri dan takut jika istri kedua melahirkan anak, ia akan disingkirkan.

Istri pertama kemudian membuat rencana jahat. Ia berpura-pura baik dan berpesan kepada istri kedua, “Jika kamu nanti mengandung, beri tahu aku ya.”

Ketika istri kedua benar-benar hamil, ia memberi tahu istri pertama. Dengan licik, istri pertama mencampurkan obat penggugur kandungan ke dalam makanan istri kedua. Hal ini terjadi sampai dua kali, menyebabkan istri kedua keguguran berturut-turut.

On the third pregnancy, istri kedua mulai curiga. Ia menyembunyikan kehamilannya dari istri pertama. Namun, ketika kandungannya sudah membesar dan tidak bisa disembunyikan lagi, istri pertama kembali berhasil mencampurkan obat biadab tersebut. Kali ini, karena usia kandungan sudah tua, bayi dalam kandungan itu mati, dan sang istri kedua juga mengalami pendarahan hebat hingga mendekati ajalnya.

Sumpah Dendam yang Berkelanjutan

Di detik-detik terakhir hidupnya, dengan rasa sakit yang luar biasa dan hati yang dipenuhi kemarahan yang membara, istri kedua bersumpah:

“Kamu telah membunuh tiga anakku dan sekarang membunuhku! Di kehidupan berikutnya, aku bersumpah akan lahir sebagai makhluk yang akan membalas dendam dan memakan anak-anakmu!”

Setelah meninggal, lingkaran setan dendam (vicious cycle) ini pun dimulai:

  • Kehidupan ke-1: Istri kedua lahir sebagai seekor kucing, sementara istri pertama (yang kemudian dipukuli sampai mati oleh suaminya karena ketahuan meracuni istri kedua) lahir sebagai seekor ayam betina. Kucing itu memakan semua telur dan anak ayam betina tersebut, hingga akhirnya membunuh ayam betina itu sendiri.
  • Kehidupan ke-2: Ayam betina yang mati dengan dendam lahir kembali sebagai seekor macan tutul, sedangkan kucing lahir sebagai seekor rusa betina. Macan tutul itu kemudian memakan anak-anak rusa dan rusa betina tersebut.
  • Kehidupan ke-3 (Zaman Sang Buddha): Rusa betina lahir sebagai seorang wanita bangsawan di Savatthi, sedangkan macan tutul lahir sebagai seorang Yakkhini (raksasa wanita) bernama Kali.

Akhir Permusuhan di Hadapan Sang Buddha

Di kehidupan ketiga ini, Kali sang Yakkhini telah memakan dua anak pertama dari wanita bangsawan tersebut. Ketika wanita itu melahirkan anaknya yang ketiga, ia melarikan diri bersama suaminya ke Vihara Jetavana untuk mencari perlindungan kepada Sang Buddha.

Kali sang Yakkhini mengejar mereka sampai ke gerbang vihara, namun dihentikan oleh dewa penjaga pintu. Mendengar kegaduhan di luar, Sang Buddha meminta Ananda untuk membawa wanita, bayi, beserta Yakkhini tersebut masuk ke dalam ruangan.

Di hadapan Sang Buddha, wanita itu menangis ketakutan sambil memeluk bayinya, sementara Yakkhini itu mendelik penuh amarah. Sang Buddha kemudian dengan lembut membongkar rantai kehidupan masa lalu mereka dan berkata:

“Wahai kalian berdua! Jika kalian tidak menemui-Ku hari ini, permusuhan ini tidak akan pernah selesai hingga ribuan kalpa. Kalian membalas kebencian dengan kebencian. Kebencian tidak akan pernah berakhir jika dibalas dengan kebencian; ia hanya akan berakhir dengan cinta kasih.”

Mendengar khotbah Sang Buddha yang menembus sanubari, Kali sang Yakkhini menyadari kebodohannya selama ratusan tahun. Hatinya melunak, ia menangis dan menyesali perbuatannya. Sang Buddha kemudian meminta wanita bangsawan itu untuk menyerahkan bayinya kepada Yakkhini. Meskipun awalnya takut, wanita itu patuh. Yakkhini menerima bayi itu, memeluknya dengan penuh kasih sayang yang tulus, menciumnya, lalu mengembalikannya kepada sang ibu.

Rantai dendam yang telah berlangsung selama tiga kehidupan itu akhirnya putus seketika di hari itu.

Bait Dhammapada (Ayat 5)

Sebagai penutup dari peristiwa yang mengharukan tersebut, Sang Buddha membabarkan bait ke-5 Dhammapada:

Na hi verena verāni, sammanthīdha kudācanaṁ; Averena ca sammanti, esa dhammo sanantano.

Artinya:

Di dunia ini, kebencian tidak akan pernah berakhir jika dibalas dengan kebencian. Kebencian hanya akan berakhir jika dibalas dengan cinta kasih (tanpa kebencian). Ini adalah sebuah hukum abadi.

Share and Enjoy !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *