[Cerita Dhammapada] Kisah Para Bhikkhu di Kosambi

Di kota Kosambi, terdapat sebuah vihara besar tempat tinggal dua kelompok bhikkhu utama. Kelompok pertama dipimpin oleh seorang guru yang sangat ahli dalam bidang Vinaya (peraturan disiplin monastik), dan kelompok kedua dipimpin oleh seorang guru yang sangat ahli dalam bidang Dhamma (khotbah dan filsafat). Kedua guru ini memiliki banyak murid dan sangat dihormati.

Pemicu Perselisihan yang Sepele

Suatu hari, guru Dhamma menggunakan toilet umum di vihara. Setelah selesai, ia tidak sengaja meninggalkan sedikit air sisa pembasuh di dalam wadah (menurut Vinaya, air sisa harus dibuang agar wadah tetap kering dan bersih).

Beberapa saat kemudian, guru Vinaya masuk ke toilet tersebut dan melihat air yang tersisa. Ia kemudian menemui guru Dhamma dan menegurnya dengan ramah, “Sahabat, apakah Anda tahu bahwa meninggalkan air di wadah itu adalah sebuah pelanggaran kecil (Apatti)?”

Guru Dhamma menjawab, “Oh, saya benar-benar tidak tahu. Kalau begitu, saya mengaku salah dan meminta maaf.” Guru Vinaya lalu menimpanya, “Jika Anda melakukannya tanpa sengaja dan tidak berniat melanggar, maka Anda tidak bersalah.”

Masalah ini seharusnya selesai di sana. Namun, guru Vinaya kemudian menceritakan kejadian itu kepada murid-muridnya dengan nada sedikit menyombongkan diri, “Guru Dhamma kalian itu, meskipun pintar berkhotbah, ternyata tidak tahu aturan toilet yang paling dasar.”

Murid-murid guru Vinaya kemudian mengejek murid-murid guru Dhamma. Murid-murid guru Dhamma yang tidak terima langsung mengadu kepada guru mereka, “Bhante, guru Vinaya mengatakan bahwa Anda telah melakukan pelanggaran dan tidak tahu aturan!”

Mendengar hal itu, guru Dhamma merasa dikhianati karena sebelumnya guru Vinaya bilang ia tidak bersalah. Guru Dhamma akhirnya berbalik arah dan menyatakan, “Guru Vinaya itu telah berbohong! Saya tidak melakukan pelanggaran apa pun!”

Perselisihan Membesar hingga Membelah Masyarakat

Konflik ego yang awalnya sangat sepele ini mendadak meledak menjadi perpecahan besar. Vihara di Kosambi terbelah menjadi dua kubu yang saling serang secara verbal. Tidak hanya para bhikkhu, para umat awam, dewa-dewa di bumi, bahkan sampai dewa-dewa di alam tinggi pun ikut terpecah mendukung kubu masing-masing.

Sang Buddha yang mengetahui perpecahan ini sempat datang langsung dan menasihati mereka untuk berdamai. Namun, karena mata mereka sudah tertutup oleh ego dan kemarahan, mereka mengabaikan nasihat Sang Buddha. Bahkan salah satu bhikkhu dengan lancang berkata, “Biarkanlah masalah ini menjadi urusan kami sendiri, Bhante. Silakan Bhante beristirahat dengan tenang.”

Melihat kekerasan hati mereka, Sang Buddha memutuskan untuk meninggalkan Kosambi dan pergi menyendiri ke Hutan Parileyyaka, di mana Beliau dirawat oleh seekor gajah dan seekor kera pelayan.

Penyesalan dan Kesadaran

Setelah Sang Buddha pergi, masyarakat awam di Kosambi menjadi sangat marah kepada para bhikkhu tersebut. Mereka berkata, “Karena keangkuhan para bhikkhu ini, Sang Buddha sampai pergi meninggalkan kita!”

Sebagai protes, masyarakat sepakat untuk melakukan boikot total: mereka menolak memberikan dana makanan (pindapata), menolak memberi hormat, dan tidak mau lagi berkunjung ke vihara.

Kelaparan dan dikucilkan oleh masyarakat akhirnya meruntuhkan ego para bhikkhu di Kosambi. Mereka mulai tersadar dari kegilaan konflik tersebut. Mereka menyadari betapa bodohnya mereka yang telah mempertaruhkan kedamaian demi urusan sepele, sementara kehidupan ini begitu singkat.

Dengan penuh penyesalan, kedua kubu akhirnya berdamai, saling memaafkan, dan berjalan bersama-sama menuju Vihara Jetavana di Savatthi untuk bersujud di kaki Sang Buddha dan memohon ampunan.

Bait Dhammapada (Ayat 6)

Di hadapan para bhikkhu yang telah menyesal tersebut, Sang Buddha membabarkan bait ke-6 Dhammapada sebagai pengingat agar manusia tidak menyia-nyiakan hidupnya untuk bertengkar:

Pare ca na vijānanti, mayam-ettha yamāmase; Ye ca tattha vijānanti, tato sammanti medhagā.

Artinya:

Banyak orang tidak menyadari bahwa di dunia ini kita semua sedang melangkah menuju kematian (ke hancuran). Namun, bagi mereka yang menyadari kebenaran ini, maka segala perselisihan dan pertengkaran akan segera berakhir.

Bait ini mengajarkan kita sebuah perenungan mendalam (Marananussati): Jika kita selalu ingat bahwa waktu kita di dunia ini sangat terbatas dan kematian bisa datang kapan saja, kita tidak akan sudi membuang-buang energi untuk memelihara ego, berdebat kusir, atau bermusuhan dengan orang lain.

Share and Enjoy !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *